Tuesday, September 17, 2013

Lautan yang Kontang

Prosa puisi pantunku pasrah berhabuk,
Punah punca api pra ditaruk rabuk,
Posa ku ini terhayut tersangkut takuk,
Terlihat kelibat amarahku, merajuk, amuk,

Seingat aku, tampil keringat bertitik-titik di bahu,
Buah fikiran celikku tak menitik-nitik di kalbu,
Semboyan busuk, katarak merisik-risik diacu,
Kumuh, akan naga empat bersisik-sisik di maju,

Sahabat berjabat, lambat teramat hasil nukilan keramat,
Mencari-cari tarikh tamat bilakah penamat,
Bukannya senang sangat menguasai seni mengayat?
Datang pejabat, mari bersama cuba bikin ayat,

Detik yang kau tunggu telah tiba, juga tampil
Hentikan rasa hiba, lontar saja rasa ganjil,
Sekarang sila terkesima bila rima alir,
Delima, berlima, takkan kau merasa fakir,


Penjelasan tajuk puisi;
"Seperti laut" adalah satu perumpamaan dalam Bahasa Arab yang menunjuk tahap (ilmu) yang mendalam. Idea aku untuk memantun semakin sedikit.*

*= Sejak kebelakangan ini